PSIKOLOGI TAQWA
Menghadirkan Diri Hati dan Jiwa Muttaqien
Dr. Yuzarion, S.Ag., S.Psi., M.Si.
|
قُلْ إِن كُنتُمْ
تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar)
mencintai Allah SWT, ikutilah cara-caraku [Muhammad SAW],
niscaya Allah SWT akan mengcintaimu dan mengampuni dosa-dosamu". Allah SWT Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. [Surat Ali-Imran (3) ayat 31]
|
Pendahuluan
Ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan dalam
Islam merupakan salah satu nilai yang sangat dijunjung tinggi. Ukhuwah yang
terjalin di antara sesama muslim tidak hanya sebagai hubungan sosial, tetapi
juga sebagai hubungan spiritual yang membawa manfaat bagi perkembangan pribadi
dan kolektif. Dalam asrama mahasiswi yang sering dianggap sebagai rumah kedua,
penguatan ukhuwah menjadi sangat penting. Asrama adalah tempat di mana
mahasiswi tinggal, belajar, dan berinteraksi, sehingga membangun ukhuwah di
lingkungan tersebut bukan hanya membantu terciptanya suasana yang harmonis,
tetapi juga memperkuat ikatan iman yang menjadikan kehidupan lebih bermakna.
Ukhuwah yang solid ini dapat terwujud melalui penerapan nilai-nilai psikologi
taqwa sebagaimana yang diajarkan dalam Al-Qur’an.
Rumah
Kedua: Ukhuwah di Asrama Mahasiswi
Al-Qur’an memberikan banyak panduan untuk
memperkuat hubungan antar sesama. Salah satu prinsip dasar dalam membangun
ukhuwah adalah saling menghargai dan mengutamakan kepentingan bersama. Seperti dalam Surat Al-Hujurat (49)
ayat 10, berikut.
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟
ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.
Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan
takutlah terhadap Allah SWT, supaya kamu mendapat rahmat.
Ayat ini menegaskan bahwa ukhuwah antar
sesama
individu beriman adalah kewajiban. Dalam asrama
mahasiswi, ayat ini mengajarkan pentingnya memperbaiki hubungan dan
menyelesaikan perselisihan di antara sesama penghuni asrama, serta senantiasa
menjaga ketakwaan kepada Allah SWT sebagai dasar utama dalam berinteraksi.
Psikologi Taqwa: Mengukuhkan Ukhuwah
Psikologi taqwa ikhtiar menghadirkan senantiasa
di mana diri
hati dan jiwa selalu mengingat Allah SWT dalam setiap
langkah hidupnya, merasakan kedekatan-Nya, dan menjadikan ketakwaan sebagai
pedoman utama dalam berinteraksi dengan sesama. Konsep ini sangat relevan untuk
membangun ukhuwah di asrama, di mana interaksi antar individu tidak hanya
dilandasi oleh norma sosial, tetapi juga nilai-nilai spiritual yang mengarah
pada kedamaian dan keberkahan.
Dalam Surat Al-Ahzab (33) ayat
70:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟
ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًۭا سَدِيدًۭا
Hai orang-orang yang
beriman, bertakwalah kamu kepada Allah SWT dan katakanlah perkataan yang benar.
Ayat ini mengajarkan bahwa salah satu cara
terbaik untuk memperkuat ukhuwah adalah dengan mengucapkan perkataan yang baik
dan benar. Dalam kehidupan asrama, ini dapat
diterapkan melalui komunikasi yang penuh kasih sayang, saling mendukung, dan
menghindari perkataan yang dapat menimbulkan perpecahan. Taqwa mendorong
seseorang untuk berbicara dengan penuh perhatian dan bijaksana, menghindari
perkataan yang kasar dan menyakiti hati orang lain.
Menghadirkan Diri Hati dan Jiwa Muttaqien
Untuk memperkuat ukhuwah dalam lingkungan
asrama, setiap individu perlu menghadirkan diri dengan hati dan jiwa yang
muttaqien (orang-orang yang bertakwa). Jiwa yang muttaqien selalu mengedepankan
sifat sabar, pemaaf, dan rendah hati dalam segala situasi. Sifat-sifat ini
penting untuk menciptakan keharmonisan antar sesama penghuni asrama. Dengan
menghadirkan diri sebagai pribadi yang penuh rasa syukur dan selalu memperbaiki
diri, suasana ukhuwah yang solid akan terbentuk secara alami.
Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa rasa
takut kepada Allah SWT (taqwa) adalah kunci dari ketenangan dan keharmonisan
hidup, seperti yang disebutkan dalam surah At-Tawbah ayat 122:
"Dan tidaklah sepatutnya bagi
orang-orang yang beriman itu pergi semuanya (ke medan perang), maka mengapa
tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk
memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada
kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga
dirinya."
Hal ini menunjukkan bahwa penting bagi
setiap individu untuk mendalami agama dan memperbaiki diri agar mampu
memberikan pengaruh positif terhadap lingkungan sekitarnya. Dalam ranah ini,
menjaga ukhuwah di asrama membutuhkan komitmen untuk terus mengembangkan diri
dalam ilmu agama dan akhlak yang baik.
Kesimpulan
Mengukuhkan ukhuwah di asrama mahasiswi
sebagai rumah kedua menurut Al-Qur’an dalam psikologi taqwa adalah suatu upaya
yang melibatkan kedalaman spiritual dan interpersonal. Dengan berpegang pada
prinsip ukhuwah yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan menerapkan nilai taqwa dalam
kehidupan sehari-hari, mahasiswi dapat menciptakan lingkungan asrama yang
damai, penuh kasih sayang, dan keberkahan. Kehidupan di asrama yang penuh
dengan ukhuwah, hati yang penuh ketakwaan, dan jiwa yang muttaqien, akan
membentuk pribadi-pribadi yang kuat baik dari segi iman maupun karakter, serta
menjadi teladan bagi sesama.
Referensi
Ayat-ayat Al-Qur'an tentang Ukhuwah Islamiyah:
1.
Surah Al-Hujurat (49:10)
2.
Surah Al-Anfal (8:46)
3.
Surah At-Tawbah (9:71)
4. Surah
Al-Hujurat (49:9-10)
Hadis-hadis Rasulullah SAW tentang Ukhuwah Islamiyah:
1.
Hadis dari Abu Hurairah RA (HR.
Bukhari dan Muslim). Kitab al-Birr wa al-Silah (Kitab tentang Kebaikan dan
Silaturahim) dengan nomor hadis 2580. Sementara itu, hadis yang sama juga
tercatat dalam Sahih al-Bukhari, pada Kitab al-Mazalim (Kitab tentang Kezaliman), dengan nomor
hadis 2442.
2.
Hadis dari Anas bin Malik (HR. Bukhari dan
Muslim). Kitab al-Iman (Kitab tentang Iman) dengan nomor hadis 13. Selain
itu, hadis yang sama juga tercatat dalam Sahih Muslim, pada Kitab al-Iman (Kitab tentang Iman)
dengan nomor hadis 69.
3.
Hadis dari Abu Musa al-Ash'ari (HR.
Bukhari dan Muslim). Kitab al-Adab (Kitab tentang Akhlak) dengan nomor hadis 6011.
Selain itu, hadis yang sama juga tercatat dalam Sahih Muslim, pada Kitab al-Birr wa
al-Silah (Kitab tentang Kebaikan dan Silaturahim) dengan nomor hadis 2586.