Jumat, 07 Februari 2025

HATI YANG WAJAL JALAN MENJADI TAQWA

PSIKOLOGI TAQWA

Menghadirkan Diri Hati Dan Jiwa Muttaqien

[Ust. Dr. Yuzarion, S.Ag., S.Psi., M.Si.]*

 

وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, [Surat Al-Mu'minun (23) ayat 60].

Hati yang wajal, hati yang selalu bergetar, hati yang penuh dengan ketakutan akan dosa dan kegagalan dalam memenuhi perintah Allah SWT. Hati yang wajal, yang mencerminkan kesadaran akan keterbatasan diri dan kekhawatiran bahwa amalan yang dilakukan tidak diterima oleh-Nya. Dalam Surat Al-Mukminun ayat 60, Allah SWT menggambarkan diri dengan sifat yang memberikan apa yang dimiliki dengan hati yang takut, diri ini sangat menyadari bahwa satu saat diri ini pasti akan kembali kepada-Nya. Ketakutan yang dimaksud bukanlah ketakutan yang merusak, melainkan ketakutan yang mengarahkan diri untuk senantiasa menjaga diri dari hal-hal yang dapat mendekatkan kepada azab-Nya. Hati yang wajal senantiasa merasa cemas apakah amal yang dilakukan akan diterima dan menjadi jalan menuju taqwa, yang merupakan tujuan utama dalam kehidupan ini.

Penting untuk disadari bahwa setiap amal yang dilakukan akan kembali dengan izin  Allah SWT, dan kelak suatu saat diri ini akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan di hadapan-Nya. Seperti dalam Surat Al-Baqarah ayat 46 yang menjelaskan bahwa orang-orang yang yakin akan menemui Rabb-nya memiliki hati yang penuh ketakutan dan harapan yang besar. Ketika menghadapi musibah, diri  beriman dengan hati yang wajal mengucapkan "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun", sebagaimana diterangkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 156. Ini menunjukkan bahwa hati yang wajal adalah hati yang menerima segala takdir dengan penuh keikhlasan, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan penuh ketaqwaan.

 

Hak Cipta © Yuzarion 2025

 

Kampung Pilahan DI Yogayakarta

Tanggal 8 Sya;ban 1446 H/ 7 Februari 2025 H.

 

Salam Ana Abdoellah

*Magister Psikologi UAD Yogyakarta

Sabtu, 01 Februari 2025

HATI YANG MUKHBIT JALAN MENJADI TAQWA

PSIKOLOGI TAQWA

Menghadirkan Diri Hati Dan Jiwa Muttaqien

[Ust. Dr. Yuzarion, S.Ag., S.Psi., M.Si.]*

 

وَلِيَعْلَمَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوا۟ بِهِۦ فَتُخْبِتَ لَهُۥ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَهَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِلَىٰ صِرَٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍۢ

 

dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. [Surat Al-Hajj (22) ayat 54].

 

Hati yang mukhbit, hati yang selalu tunduk dan merendah di hadapan Allah SWT, hati yang mukhbit hati yang penuh ketenangan dan sakinah. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an, Surah Al-Hajj ayat 54, "Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al-Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu, lalu diri yang beriman dan hatinya akan tunduk kepada-Nya." Hati yang demikian memiliki kedamaian dan ketenangan yang tidak tergoyahkan oleh berbagai tantangan dunia. Diri yang memiliki hati seperti ini akan merasakan kedamaian dalam beribadah, selalu berada dalam kondisi penuh keikhlasan dan ketundukan, tidak merasa sombong dengan ilmu yang di miliki, dan selalu menjaga hubungan baik dengan Allah SWT. Dalam keadaan seperti ini, diri akan senantiasa berusaha mengikuti petunjuk  dalam Al-Qur’an dan Sunnah, serta hidup dalam ketaqwaan yang sejati.

 

Kehidupan yang dilalui dengan hati yang mukhbit, merupakan jalan yang membawa diri menuju ketaqwaan. Ketaqwaan ini tidak hanya terlihat dalam tindakan, tetapi juga dalam ketulusan hati yang selalu merendah di hadapan Allah SWT, baik dalam kondisi senang maupun sulit. Dengan hati yang mukhbit kepada-Nya, diri akan merasa tenang dan damai dalam menjalani kehidupan. Diri hati dan jiwa yang beriman akan terus meyakini bahwa Al-Qur’an adalah wahyu yang hak dari Allah SWT, dari Al-Qur’an dan Sunnah diri akan mendapatkan petunjuk hidup yang lurus. Hati yang mukhbit menjadi jembatan bagi setiap diri untuk mencapai kedekatan dengan Allah SWT, memperkuat keimanan, dan diri akan hidup penuh dengan ketenangan (sakinah) dan kesejahteraan.

 

Hak Cipta © Yuzarion 2025

 

Kampung Pilahan DI Yogayakarta

Tanggal 3 Sya;ban 1446 H/ 2 Februari 2025 H.

 

Salam Ana Abdoellah

*Magister Psikologi UAD Yogyakarta

Senin, 27 Januari 2025

HATI YANG BERSIH JALAN MENJADI TAQWA

PSIKOLOGI TAQWA

Menghadirkan Diri Hati Dan Jiwa Muttaqien

[Ust. Dr. Yuzarion, S.Ag., S.Psi., M.Si.]*

 

إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ

 

“(Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak. Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” [Surat Ash-Shu'ara (26) ayat 88-89].

 

Belajar dari Kisah Isra' Mi'raj Rasulullah SAW: Pada saat peristiwa Isra' Mi'raj, Rasulullah SAW mengalami perjalanan spiritual yang luar biasa. Sebelum menerima perintah untuk melaksanakan sholat lima waktu, beliau mengalami proses pembersihan hati yang sangat mendalam. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menceritakan bagaimana malaikat Jibril membelah dadanya dan membersihkannya dengan air zamzam. Peristiwa ini tidak hanya terjadi sekali, tetapi setidaknya tiga kali dalam hidup beliau, dengan salah satunya terjadi saat beliau masih kecil. Hal ini menggambarkan bahwa pembersihan hati adalah langkah pertama yang harus ditempuh untuk mencapai kesucian jiwa, spiritual dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

 

Hati yang bersih, menurut Al-Qur'an, adalah hati yang dapat menghadap Allah SWT dengan penuh ketulusan dan keikhlasan, sebagaimana disebutkan dalam Surat Ash-Shu'ara (26:88-89): "Pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak, kecuali orang yang menghadap Allah SWT dengan hati yang bersih." Oleh karena itu, proses pembersihan hati menjadi sangat penting bagi setiap diri dalam mencapai taqwa, yang merupakan tujuan akhir dalam hidup di dunia dan akhirat.

 

Peristiwa pembersihan hati Nabi Muhammad SAW ini menjadi contoh bahwa kebersihan hati adalah kunci untuk mencapai taqwa dan kesalehan dalam kehidupan. Taqwa bukan hanya tentang menjalankan kewajiban agama secara lahiriah, tetapi lebih dari itu, ia mencakup kedalaman jiwa dan spiritual yang harus tercermin dari niat dan tindakan yang ikhlas. Dengan hati yang bersih, seseorang akan lebih mudah untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam dengan baik. Hati yang penuh dengan keikhlasan dan kesucian akan membimbing diri untuk hidup sesuai dengan prinsip-prinsip Allah SWT yang tertuang dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, baik dalam hubungan dengan diri, sesama manusia maupun dalam ibadah kepada Allah SWT.

 

Hak Cipta © Yuzarion 2025

 

Kampung Pilahan DI Yogayakarta

Tanggal 27 Rajab 1446 H/ 27 Januari 2025 H.

 

Salam Ana Abdoellah

*Magister Psikologi UAD Yogyakarta