Sabtu, 04 Juni 2016

NILAI TTM METODE PENGEMBANGAN KOGNITIF 2016.1

REKAPITULASI NILAI TUTORIAL TATAP MUKA
UPBJJ-UT PADANG
Pokjar: Batang Anai/SDN 01 Lubuk Alung
Kode/Nama Mata Kuliah: PAUD4101/Metode Pengembangan Kognitif
Nama Tutor: Dr. Yuzarion, S.Ag., S.Psi., M.Si.

No
NIM
Nama Mahasiswa
JK
T1
T2
T3
RT
P
TTM
1
826244349
ANDREAS EKA PUTRA
8
94
90
93
92.33
97
93.7
2
835486871
ASNELI
8
95
91
93
93.00
96
93.9
3
826239727
EFRIDA
8
96
94
95
95.00
98
95.9
4
835487651
ERINIATI. A
8
90
93
91
91.33
90
90.9
5
835460442
ERLINA
8
93
91
92
92.00
93
92.3
6
825945464
EVA SUSANTI
8
92
91
93
92.00
94
92.6
7
835460632
GUSRIANI MELSI
8
90
92
91
91.00
90
90.7
8
835460592
MARWIKA
8
92
93
92
92.33
93
92.5
9
835451848
MULYARNI
0
0
0
0
0.00
0
0.0
10
835454653
NELRIWATI
8
95
95
94
94.67
99
96.0
11
826241067
NOPA ERIYANTI
8
94
90
93
92.33
96
93.4
12
835487121
NURDONA WATI
8
95
97
94
95.33
95
95.2
13
835456546
SITI FAUZIAH
8
90
94
92
92.00
93
92.3
14
835454843
YETTY MULIDA
8
91
90
94
91.67
94
92.4
15
835456926
YULFINI
8
93
92
90
91.67
91
91.5
16
835487311
YURNALIS
8
91
94
93
92.67
92
92.5
17
825945124
ZULEKA
8
90
93
91
91.33
90
90.9
18
835456696
ZULMIARTI
8
94
90
93
92.33
97
93.7
Keterangan:
JK = Jumalah Kehadiran
T1 = Tugas 1
T2 = Tugas 2
T3 = Tugas 3
P = Partisipasi/keaktifan

TTM = Nilai Tutorial Tatap Muka

Kamis, 07 April 2016

Membangun Pemimpin Berkarakter PTS*

Oleh: DR. Yuzarion Zubir, M.Psi.

Dosen Psikologi Pendidikan STKIP PGRI Sumatera Barat

Semangat membangun pemimpin berkarakter, menjadi kerinduan yang amat mendalam. Seiring dengan bergulirnya era reformasi 1997. Sampai hari ini, semangat itu tidak pernah pudar.

Semangat menghadirkan pemimpin berkarakter terus bergulir. Sebab, pembangunan karakter merupakan amanat Pancasila dan Pembukaan Undang-undang Dasar (UUD) 1945.
Pemerintahan, pada 2010 telah menetapkan Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025. Bahkan, pendidikan karakter, dijadikan sebagai program prioritas pemerintahan dalam pembangunan nasional.
Semangat membangun karakter bangsa itu, tertuang dalam  Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025.
Berkaitan dengan semangat membangun karakter bangsa dalam RPJPN itu. Pada lembaga pendidikan (sekolah dan pendidikan tinggi). Ruh pendidikan karakter, telah ada pada Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas RI 20/2003). Seperti yang tertuang pada Bab II, Pasal 3 berikut:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia.
Salah satu kata kunci, pendidikan karakter itu ada pada  kata berakhlak mulia. Hemat penulis, ini merupakan esensi dari wujud membangun pemimpin berkarakter itu. Wujud pemimpin berkarakter ada pada pemimpin yang berkarakter mulia (berakhlak mulia).
Membangun pendidikan karakter di lembaga pendidikan (sekolah maupun pendidikan tinggi), tidak bisa, hanya diajarkan pada tataran teori dan konsep. Hari ini diajarkan teori dan konsep jujur, lalu besok langsung menjadi orang jujur. Ini sesuatu yang mustahil.
Membangun pendidikan karakter harus lahir dari keteladanan berperilaku, perbuatan nyata, bukan sandiwara. Sepanjang hari dan waktu, setiap rentang nafas kehidupan dan pendidikan.
Untuk hal yang seperti ini, siapakah yang bertanggung jawab membangun pendidikan karakter itu?
Di PT, tentu para dosen dan pimpinan. Disinilah sosok pemimpin berkarakter itu sangat dirindukan. Kehadiran sosok pemimpin PT, sekelas; Musliar Kasim (UNAND), Ikhlasul Amal (UGM), Muhadjir Effendy (UMM) dan Imam Suprayogo (UIN Malang).
Sedangkan pada lembaga pemerintahan, sosok Mahyeldi (Padang), Ridwan Kamil (Bandung), Risma (Surabaya), Ganjar Pranowo (Jawa Tengah), dan M. Zainul Majdi (NTB). Mereka dipandang, sebagai sosok pemimpin berkarakter, yang telah mewariskan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia .
Kehadiran mereka sebagai pemimpin, sudah menjadi penyejuk, terasa mendapatkan obat, dikala sakit, hembusan angin yang membawa perubahan. Mereka hadir, disaat Bangsa ini mengalami krisis kepemimpinan yang amat memprihatinkan.
Tidak sedikit pemimpin bangsa dan PT di Indonesia, tersandung masalah hukum, seperti korupsi dan narkoba. Beberapa guru besar (profesor) dan doktor, pernah diberhentikan dengan tidak hormat. Dicabut hak akademiknya, karena kasus plagiat (penciplakan karya orang, dijadikan seolah-olah karya sendiri).
Dilembaga pemerintahan, tidak sedikit jumlahnya, bisa ratusan, bahkan mungkin ribuan. Para pemimpin tersandung masalah tahta, harta, dan wanita. Korupsi meraja lela, narkoba luar biasa, prostitusi tak terhingga, dan sebagainya. Dengan krisis kepemimpinan itu, membuat Negeri ini semakin terpuruk.
Mencoba mengevaluasi permasalahan itu. Sudah seharusnya pimpinan, baik pimpinan  PT maupun pimpinan pemerintahan berbenah diri.
Khusus pimpinan PT, dalam hal ini pimpinan PTS, sudah saatnya membuat terobosan, mempercepat PTS bergerak menuju pada kepemimpinan berkarakter.
Termasuk PTS di bawah Koordinasi  Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah X, Sumatera Barat, Jambi, Riau, dan Kepulauan Riau. Salah satunya STKIP PGRI Sumatera Barat.
Sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) tertua dan terbesar di Kopertis Wilayah X, STKIP PGRI Sumatera Barat telah meluluskan 15 ribu lebih sarjana pendidikan. LPTK ini sesungguhnya diperhitungkan keberadaannya di antara 200 lebih PTS di Kopertis Wilayah X. Apalagi didukung dengan jajaran pimpinannya berkarakter mulia.
Rotasi kepemimpinan di STKIP PGRI Sumbar akan segera bergulir seiring berakhirnya masa jabatan pada April 2016. Wacana pemilihan dan perbincangan untuk melahirkan pimpinan berkarakter, terus berhembus dari keluarga besar civitas akademika.
Mulai dari mahasiswa, karyawan, dan para dosen. Bahkan di level pimpinan program studi, dan unit, serta di tingkat pimpinan institusi.
Seluruh civitas akademika layak mengharapkan yang terbaik, yakni lahirnya kepemimpinan yang berkarakter dan dapat membawa perubahan. LPTK ini yang tercatat dengan mahasiswa terdaftar saat ini sebanyak 9.108 (BAAK STKIP PGRI Sumbar 19/3), PTS ini membutuhkan figur kepemimpinan yang berkarakter.
PTS ini juga memiliki 269 dosen, dengan kualifikasi, 12 orang berpendidikan doktor dan selebihnya magister (S2). Berarti kualifikasi dosen telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan Kemenristek Dikti. Sudah barang tentu seluruh dosen, juga menjadi referensi dan rujukan dalam membangun pendidikan karakter di PTSnya.
Sebagai PTS yang mencetak tenaga keguruan dan ilmu pendidikan tertua dan terbesar di Kopertis Wilayah X, seluruh civitas akademika diyakini sudah siap untuk berkompetisi dengan cerdas dan terbuka, dalam pesta demokrasi pemilihan pimpinan perguruan tinggi ini.
Hemat penulis, siapa pun yang akan duduk di pucuk pimpinan, tidak terlalu dipermasalahkan. Yang penting terpilih secara demokrasi yang adil, dan lebih penting lagi mampu membawa perubahan memenuhi harapan seluruh civitas akademika.
Salah satu harapan besar itu adalah lahir pemimpin yang berkarakter di STKIP PGRI Sumbar. Harapan besar ini memang bukanlah sesuatu yang mudah untuk diwujudkan, namun dengan kerja keras yang didukung kepemimpinan yang andal, bukan pula sesuatu yang sulit.
Sebagai PTS tertua dan terbesar, mencetak tenaga guru, STKIP PGRI Sumbar tentu selalu berada digarda terdepan, pelopor pendidikan karakter. Sudah seharus, yang akan memimpin STKIP PGRI Sumbar kedepan, adalah pemimpin berkarakter.
Pemimpin berkarakter dimaksud. Yakni pemimpin yang mewarisi sifat-sifat mulia, kepemimpinan Rasulullah SAW. Pertama, pemimpin berkarakter shiddiq. Shiddiq artinya benar, benar dalam ucapan dan perkataan, serta perbuatan dan perilaku, perbuatan sejalan dengan ucapannya.
PTS sangat butuh pemimpin berkarakter siddiq. Banyak pimpinan PTS yang tersandung masalah ini. Mulai dari permasalah mahasiswa. Mahasiswa nya ada, kampus dan dosenya tidak jelas, serta deretan permasalah lain, baik dalam berbuat, berkata, dan berperilaku yang tidak benar lain. Tentu hal ini tidak akan pernah terjadi. Apabila pimpinan PTSnya berkarakter shiddiq.
Kedua pemimpin berkarakter amanah. Adalah pemimpin yang mau menjaga kepercayaan yang diberikan padanya, pemimpin yang melindunggi dan mensejahterakan bawahan tanpa kecuali, tidak pilih kasih dan kisah. Pemimpin berkarakter amanah adalah mereka pemimpin berkepribadian jujur, berlaku adil serta bijaksana dalam bertindak dan memutuskan.
Pemimpin berkarakter amanah membuat bawahannya merasa aman dan nyaman. Menciptakan lingkungan yang tentram (kondusif), tidak membuat bawahan terpecah belah belah dan merasa takut. Pemimpin yang berkarakter amanah memberikan harapan baik kepada seluruh civitas akademika dan berusaha mewujudkan harapan itu.
Pemimpin berkarakter amanah memimpin dengan hati dan keyakinan. Sifat amanah lahir dari keyakinan yang teguh dan keimanan yang kokoh. Pemimpin berkarakter amanah adalah pemimpin kuat yang imannya lahir dan batin.
Pemimpin yang berkarakter amanah adalah pemimpin yang taat beribadah, baik ibadah wajib, maupun ibadah-ibadah sunat. Shalatnya tepat pada waktu dan tentu lebih mengutamakan shalat berjemaah.
Pemimpin berkarakter amanah lebih mengutakan panggilan Tuhannya (Allah SWT), dari pada panggilan duniawi. Sehingga mereka menjadi pemimpin yang bertaqwa. Allah SWT mencintai pemimpin berkarakter amanah. Merekapun, pemimpin berkarakter amanah itu mencintai Allah SWT dengan sepenuh hati. Tentu pemimpin berkarakter amanah seperti ini, yang dibutuhkan PTS untuk menjadi lebih besar dan melangkah lebih maju.
Ketiga pemimpin berkarakter fathanah. Adalah cerdas. Mustahil pemimpin bukan dari orang-orang yang cerdas. Pemimpin berkarakter cerdas, adalah pemimpin yang mampu mengasah pikirannya dengan tajam (benar), menata perilakunya dengan tepat, dan mengelola suasana batinnya (hati) dengan sempurna.
Inilah yang akan menjadi nilai tambah,bagi pemimpin berkarakter cerdas itu. Berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan para pemimpin besar lainnya di PTS Kopertis Wilayah X, mapun dengan PTN di Sumatera Barat.
Keempat pemimpin berkarakter tabligh. Tabligh artinya menyampaikan. Makna yang dapat dipetik dari pemimpin berkarakter tabligh adalah pemimpin yang mau membuka komunikasi yang baik dengan seluruh civitas akademika PTS.
Pemimpin berkarakter tablihg, mereka mau membuka komunikasi dua arah, bukan hanya komunikasi satu arah. Tidak hanya komunikasi perintah atau instruksi, tapi ada umpan balik dan komunikasi timbal balik yang bisa dibangun bersama untuk memajukan PTS.
Membagun pemimpin berkarakter, semua akan bisa tercapai, apabila seluruh civitas akademika bersatu padu dalam satu hati kepemimpinan berkarakter. Pemimpin berkarakter itu lah yang akan dapat mengayomi seluruh civitas akademika dan elemen terkait.
Pemimpin berkarakter tidak akan mengecilkan bagian yang lain. Bahkan meniadakannya. Tidak ada lagi bagian yang tersakiti, sehingga mengganggu kinerja kepemimpinan itu sendiri.
Sekarang harapan itu terbuka lebar di depan mata. Gerbang perubahan dan harapan baru itu sudah dekat. Kampus ini menunggu pemimpin berkarakter mulia (berakhlak mulia), yang akan membawa ke arah kampus yang lebih mandiri dengan tata kelola yang baik dan terukur. Selamat berdemokrasi.(*)


*Terbit di Singgalang Edisi Rabu 6 April 2016 M/28 Jumadil Akhir 1437 H, hal. 9A

Kamis, 19 November 2015

PENGESAHAN PL KEPENDIDIKAN BK

HALAMAN PENGESAHAN


 LAPORAN
PRAKTIKUM LAPANGAN KEPENDIDIKAN




Diajukan oleh:

              
MUHAMMAD FIKRI
NPM: 11060122

                                                                                                        

Telah disetujui:

Kepala Sekolah
.......................................
Pamong PL Kependidikan

Tanda tangan dan Cap Sekolah


......................................
NIP: ..............................



......................................
NIP: ..............................

Ketua Program Studi B.K.,
Pembimbing PL Kependidikan,



Dra. Helma, M.Pd.
NIDN: 0027025704



Dr. Yuzarion Zubir, S.Ag., S.Psi., M.Si.
NIDN: 1004027201

Laporan ini telah disahkan
Tanggal: ... Desember 2014
Kepala UPPL STKIP PGRI Sumatera Barat,




Jarudin, M.A., Ph.D.
NIDN: 0430067601


Jumat, 07 Agustus 2015

Ketidakarifan PSB Online*

Oleh: DR. Yuzarion Zubir, M.Psi.
Dosen Psikologi Pendidikan STKIP PGRI Sumatera Barat.


Kepala Sekolah dan Dinas Pendidikan Kota tidak arif menyikapi permasalahan yang muncul akibat Penerimaan Siswa Baru (PSB) Online dari tahun ke tahun.

Mereka bertahan dengan egonya, sebab PSB Online program terbaik penjaringan siswa baru dengan teknologi.
Kasus pengembokan dan penutupan sekolah oleh masyarakat setempat, selalu berulang.
Puncaknya tahun 2015 ini, terjadi penutupan dan pengembokan pagar SMAN 16 Padang, selama lebih kurang 15 hari, oleh warga yang tergabung dalam Forum Masyarakat Anak Nagari (F-KAN) Pauh IX, akibat dari 114 anak kemenakan mereka, tidak lulus PSB Online (hariansinggalang.co.id. diakses 24/7).
Hemat penulis, kasus serupa juga terjadi di Koto Tangah, Bungus Teluk Kabung dan sekolah-sekolah Padang pingir Kota. Sayang tidak terekspos karena jumlahnya kecil.
Sebanyak 114 anak warga sekitar yang tidak lulus, boleh jadi nilainya di bawah standar/grade SMAN 16. Besar kemungkinan mereka adalah anak dengan hasil belajar rendah, miskin, dan tidak mampu.
Dalam permasalahan ini. Disatu sisi, Kepala Sekolah dan Dinas Pendidikan Kota. Usaha mereka dalam membenahi sistem dan kualitas pendidikan melalui PSB Online telah berada pada jalan yang semestinya.
Namun aspek lain, menurut penulis juga harus dipertimbangkan dalam mengambil kebijakan penerimaan siswa baru.
Aspek-aspek yang dimaksud antara lain:

Pertama, latar belakang tempat tinggal calon siswa. Bagi siswa miskin dan tidak mampu, perlu kearifan dan kebijaksanaan khusus, dalam mengawal PSB Online agar anak di sekitar sekolah (dekat lokasi sekolah) dapat diterima.

Berharap kearifan pada teknologi atau komputer/PSB Online, sudah barang tentu tidak akan pernah ada. Sebab, kearifan dan kebijaksanaan milik manusia. Disinilah bentuk kemulian sifat dan keluhuran budi. 
Dalam hal ini tentu kita hanya bisa berharap! tertumpu harapan kepada Kepala Sekolah dan Dinas Pendidikan Kota. Apalagi ditengah lesunya perekonomian nasional. Perekonomian masyarakat kita juga semakin terpuruk.
Bersama kita harus apresiasi, masih ada keluarga miskin dan tidak mampu, berkeinginan menyekolahkan anak seperti di SMAN 16 dan sekolah lainnya.
Tentu mereka yang miskin dan tidak mampu ini, sudah barang pasti mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan hidup, sekalipun itu hanya kebutuhan dasar (makan dan minum).
Beban akan semakin berat, apabila anak mereka bersekolah jauh dari tempat tinggal, ditengah mahalnya biaya transfortasi yang harus ditanggung.

Kedua, bakat dan potensi anak perlu jadi pertimbangan. Sesuai instruksi Pemerintahan Koto, solusi yang ditawarkan untuk 114 anak di tidak tertampung SMAN 16 akan ditempatkan ke filial/kelas jauh SMKN 3, yang akan menempati gedung SDN 35 Kuranji (Padek, 23/7).

Solusi ini juga belum bijak. Dilihat dari titik permasalahan penerimaan siswa baru, tidak mungkin setiap tahunnya Pemerintahan Kota membuka filial/kelas jauh untuk penyelesaian masalah yang sama dari tahun ketahun.
Disisi lain, Kepala Sekolah dan Dinas Pendidikan, bahkan Pemerintahan Kota, terkesan tutup mata dan mengabaikan perbedaan bakat dan potensi anak.
Gardner (1993) menjelaskan sembilan bentuk kecerdasan (multiple intellegences) manusia. Keberagaman anak, akan lahir minat dan bakat berbeda dari individu/anak yang berbeda juga. Tentu hal ini perlu juga menjadi pertimbangkan.
Dalam kasus ini, sangat jelas ruh (kurikulum), visi dan misi pendidikan SMA dan SMK berbeda 180 derajat.
Tiga jurusan yang di buka; Akuntansi, Administrasi Perkatoran, dan Teknik Komputer Jaringan (TKJ), di filial/kelas jauh SMKN 3. Belum tentu sesuai dengan bakat dan minat 114 anak yang tidak tertampung di SMAN 16.
Dalam hal ini, tentu Kepala Sekolah dan Dinas Pendidikan perlu meninjau ulang keputusan ini dan rasanya sangat perlu melibatkan tim ahli/pakar, seperti psikolog pendidikan untuk menggali bakat dan minat serta potensi anak.
Jangan sampai solusi ini hanya untuk meredam emosi sesaat, sementara mengorbankan masa depan sebahagian anak yang tidak berbakat dan berminat di SMK. Boleh jadi, sebahagian lagi akan diuntungkan.
Anak yang bersekolah (belajar) tidak sesuai bakat dan minat. Kecenderungan belajar tidak sungguh, motivasi belajar rendah dan malas serta tidak akan bergairah dalam belajar dan sebagainya.

Ketiga, kearifan budaya dan latar belakang beridirinya sekolah. Karena keelokan dan kearifan budaya setempatlah sebagahagian besar dapat berdiri sekolah-sekolah di Sumatera Barat dan Kota Padang, khususnya SMAN 16.

Masyarakat ingin perubahan, anak-anaknya bisa bersekolah dan bekerja layak. Bahkan ada janji tidak tertulis, saat pendirian sekolah, pihak sekolah akan mengutamakan pendidikan anak-anak sekitar lokasi sekolah, harapan itu, seolah-olah pupus karena maslah PSB Online (teknologi).
Kalau begitu, kedepan dalam pendirian sekolah baru, syah-syah saja masyarakat harus membuat kesepakatan hitam di atas putih (perjanjian). Agar hak-hak anak-anak mereka terlindunggi hukum dan tidak lagi tersingkirkan (terabaikan).

Keempat, bersekolah wajib dan dilindunggi Undang-Undang. Sangat tegas dan jelas hak bersekolah di lindungi.  

Amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 (UUD 1945).  Dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke empat menyatakan Pemerintah Indonesia bertugas mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kemudian dipertegas dalam BAB XIII Pasal 31 ayat (1): setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan.
Lebih lanjut Pasal 34 ayat (1) menjelaskan: fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara Negara.
Berdasarkan UU ini, jelas sekali hak seluruh warga Negara untuk mendapatkan pendidikan. Apalagi fakir miskin dan anak terlantar, mereka berdomisili sekitar sekolah.
Sudah seharusnya Kepala Sekolah dan Dinas Pendidikan Kota, setiap tahun ajaran baru, menetapkan keputusan, merakit  ulang teknologi, meninjau program PSB Online, membuat alokasi khusus calon siswa baru untuk anak-anak berdomisili di sekitar sekolah, miskin dan tidak mampu (berprestasi belajar rendah).
Saran sederhana, bisa dalam bentuk penetapan kebijakan berkisar 1 sampai 2 kelas atau 10 sampai 20 persen setiap tahun dari total penerimaan siswa baru.
Sebagai contoh, dari total rencana penerimaan 300 siswa baru di satu sekolah, maka ditetapkan 30 sampai 60 siswa/anak berasal dari warga sekitar, miskin dan tidak mampu tersebut.
Agar hak-hak mereka yang berdomisili di sekitar sekolah, miskin dan tidak mampu terfasilitasi karena keelokan dan kearifan hati pemangku kebijakan.
Semoga saja dengan saran ini, ketidakarifan bisa berubah menjadi kearifan, tahun depan tidak adalagi permasalahan yang sama berulang. Selamat tahun ajaran baru!

*Sumber Harian Singgalang, Kamis 30 Juli 2015 hal. A.9