Rabu, 05 April 2023

Psikologi Taqwa: Said bin Amir Aljumahi memilih Akhirat

Said bin Amir Aljumahi menjadi teladan bagi orang-orang dalam berkeyakinan tauhid [beriman] generasi Islam berikutnya, bahkan sampai saat ini.

 

Said telah membeli kehidupan akhirat dengan dunianya, Said rela mendahulukan Allah SWT dan Rasullullah SAW, serta mendahulukan  pahala dan ridha-Nya, dari pada keinginan hawa nafsu, sahwat badan, dan kenikamatan sesaat.

 

Abu Bakar dan Umar bin Khatab dua khalifah ini sangat paham dengan ketaqwaan yang dimiliki Said bin Ami Aljumahi. Mereka berdua sering menerima nasehat-nasehat Said baik saat menjadi Khalifa maupun sebelumnya.

 

Saat Umar baru saja dibai’at [diangkat] menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar. Said mendatanggi Umar lalu memberi nasehat: “Wahai Umar aku berwasiat kepadamu agar engkau takut kepada Allah SWT dalam urusan manusia. Janganlah engkau takut kepada manusia dalam urusan Allah SWT.

 

Said meneruskan nasehat berikutnya: ‘Ucapanmu jangan pernah menyalahi perbuatanmu, sebab ucapan terbaik adalah yang dibenarkan oleh perbuatan.

 

Perhatikan dengan baik orang yang telah Allah SWT percayakan kepadamu dalam urusan kaum muslimin, baik yang jauh mapun yang dekat.

 

Cintailah mereka sebagaimana engkau mencintai dirimu dan keluarga. Sayangilah mereka sebagaimana engkau menyayangi dirimu dan keluarga.

 

Doronglah manusia menuju kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah engkau khuwatir terhadap ancaman manusia selagi engkau istiqamah dijalan Allah SWT.

 

Begitulah cuplikan kecil nasehat-nasehat Said bin Amir Aljumahi kepada Umar bin Khatab, kisah ini terdapat pada buku Sirah 65 Sahabat Rasulullah.

 

Selang beberapa waktu kemudian, Khalifah Umar meminta dan mengangkat Said bin Amir Aljumahi menjadi Gubernur di wilayah Hims.

 

Said bin Amir Aljumahi tercatat sebagai gubernur miskin. Miskinnya benar-benar miskin, bukan miskin pencitraan seperti gubernur saat ini.

 

Begitulah Said teladan bagi semua diri yang berkomitmen dalam ketaqwaa. Sebagai sahabat Rasulullah SAW dan pemimpin umat [gubernur] yang sepanjang kepemimpinannya mensejahterakan umat, disamping itu Said sebagai gubernur sangat berkhitmat dengan akhirat lebih baik dari dunia dan seisinya.

 

 

[Bersambung…]

 

 

Ya Allah… Ya Tuhan kami, tuntunlah kami untuk memilih Akhirat lebih baik dari dunia seisinya, seperti keyakinan Said bin Abdi Ajumahi RA sahabat Rasulullah SAW… 🤲*

 

Jogjakarta, 14 Ramadhan 1444 H, bertepatan 5 April 2023

 

Salam

Dr. Yuzarion, S.Ag., S.Psi., M.Si.

Magister Psikologi UAD Yogyakarta

Selasa, 04 April 2023

Psikologi Taqwa: Nilai-nilai Psikologis Arrahman

Arrahman merupakan satu dari sembilan puluh sembilan Asmaul Husna. Asma Allah SWT ini secara bahasa, Arrahman bisa diartikan pengasih, karena ini sifat Allah SWT belum tepat diberi makna pengasih, maka kita menggunakan arti Arrahman Yang Maha Pengasih.

 

Arrahmaan merupakan dua rangkaian yang tidak terpisah dengan Arrahiim. Dua asma Allah SWT ini senantiasa membasahi bibir sepanjang hayat. Apapun bentuk dan aktifitas selalu diawali dengan:

 

بِسْÙ…ِ اللَّÙ‡ِ الرَّØ­ْÙ…َÙ†ِ الرَّØ­ِÙŠْÙ…

 

Dengan nama Allah SWT yang maha pengasih dan maha penyayang.

 

Saat hamba telah berikrar lisan dengan ber-syahadatnya, seketika akan tumbuh keyakinan tauhid [syahadat] pada diri, hati dan jiwanya. Keyakinan tauhid [syahadat] akan melahirkan perilaku, terkadang jauh diluar nalar atau akal rasinal manusia, seperti sosok Khubaib bin Abdi R.A. sosok syahid pertama dimutilasi dan Said bin Amir Aljumahi gubernur miskin.

 

Kembali pada Arrahman dan Arrahim, ungkapan basmallah artinya: “Dengan nama Allah SWT yang maha pengasih dan maha penyayang”. Memiliki makna psikologis yang sangat dalam membentuk nilai-nilai Arrahman dakam berperilaku.

 

Maha pengasihnya Allah SWT diturunkan lansung bersaaan dengan ruh manusia disatukan dengan jasat calon manusia empat bulan dalam kandungan Ibunya.

 

Maka sifat Arrahman Allah SWT akan menjadi salah satu karakter pada manusia. Karakter tersebut adalah ‘pengasih’. Allah SWT yang Maha Mudah Memberi. Maka lahir karakter mudah memberi pada manusia, lawannya kikir atau pelit sebagai jebakan.

 

Perilaku mudah memberi merupakan cerminan dari nilai-nilai psikologis Arrahman [pengasih] Allah SWT pada manusia yang menjadi karakter diri sebagai manusia muttaqien.

 

 

 

[Bersambung…]

 

 

Ya Allah… Ya Tuhan kami, Engkau Allah yang Maha Pengasih, tidak pernah pilih kasih.   Kami memohon kepada-Mu Dengan nama-Mu yang maha pengasih, kasihanilah kami ya Rabb karena pengasih-Mu meliputi segalanya… 🤲*

 

Jogjakarta, 13 Ramadhan 1444 H, bertepatan 4 April 2023

 

Salam

Dr. Yuzarion, S.Ag., S.Psi., M.Si.

Magister Psikologi UAD Yogyakarta

Sabtu, 01 April 2023

Psikologi Taqwa: Bersyahadatnya Said bin Amir Aljumahi

Said bin Amir Aljumahi seorang pemuda yang melihat lansung peritiwa syahidnya Khubaib bin Abdi di tiang mutilasi. Pengakuan Said, pada tubuh Khubaib banyak sekali bekas sayatan pedang dan tombak yang tidak dapat dihitung jumlahnya.

 

Setelah peristiwa syahidnya Khubaib di bin Abdi tiang mutilasi tersebut, secera psikologis Said sangat terbebani mentalnya, peristiwa tersebut manghantui dirinya, hatinya tidak dapat dibohongi, dan jiwanya sangat terbebani.

 

Bayangan Khubaib sangat sering muncul dalam tidurnya, serta saat terjagapun Said melihatnya dengan ilusi.

 

Tergambar di pikiran Said saat Khubaib meminta izin dan melalkukan shalat dua rakaat yang begitu tenang di depan kayu yang terpancang tempat mutilasi.

 

Said mendengar dengan jelas getaran suara Khubaib saat berdoa untuk kehancuran suku Quraisy.

 

Doa Khubaib mengetarkan jiwanya, Khubaib telah mengajarkan kepadanya, hidup yang sesungguhnya adalah Aqidah dan berjihad di jalan Aqidah sampai mati.

 

Khubaib mengajarkan bahwa iman yang mantap akan menimbulkan banyak keajaiban dan mujizat.

 

Khubaib juga mengajarkan hal yang lain, bahwa pria yang dicintai oleh para sahabatnya dengan cinta seperti ini [Salah satunya kisah Khubaib] tiada lain adalah seorang Nabi yang didukung oleh penghuni langit dia adalah baginda Rasulullah SAW.

 

Saat itu Allah SWT melapangkan dada Said RA, Said bersyahadat dan ber-Islam. Maka dengan gagah berani Said berjalan dan menghampiri kerumunan manusia, lalu mengumumkan keterlepasan diri, hati, dan jiwanya dari perbuatan dosa-dosa besar yang telah dilakukan kaum Quraisy.

 

Said bin Amir Aljumuhi bersyahadat, berikrar lisan diri, hati, dan jiwanya, bersyahadat tauhid dan bersyahadat Rasul, berjanji meninggalakan segala berhala yang pernah disembah.

 

Dihadapan masyarakat dan pemuka Quraisy Said mengumumkan bahwa dia telah masuk Islam. Kehadiran Said menambah amunisi dan kekuatan Islam diawal-awal Islam hadir sebagai ad-din yang rahmatallil’alamiin.

 

[Bersambung…]

 

 

Ya Allah… Ya Tuhan kami, Engkau Maha Sempurna yang menjaga kesempurnaan Tauhid kami… Kami memohon kepada Engkau sempurnakan Tauhid kami seperti sempurnya Tauhid Said bin Abdi Ajumahi RA… 🤲*

 

Jogjakarta, 10 Ramadhan 1444 H, bertepatan 1 April 2023

 

Salam

Dr. Yuzarion, S.Ag., S.Psi., M.Si.

Magister Psikologi UAD Yogyakarta