Puncaknya tahun 2015 ini, terjadi
penutupan dan pengembokan pagar SMAN 16 Padang, selama lebih kurang 15 hari, oleh
warga yang tergabung dalam Forum Masyarakat Anak Nagari (F-KAN) Pauh IX, akibat
dari 114 anak kemenakan mereka, tidak lulus PSB Online (hariansinggalang.co.id. diakses 24/7).
Hemat penulis, kasus serupa
juga terjadi di Koto Tangah, Bungus Teluk Kabung dan sekolah-sekolah Padang pingir Kota.
Sayang tidak terekspos karena
jumlahnya kecil.
Sebanyak 114 anak warga sekitar
yang tidak lulus, boleh jadi nilainya di bawah standar/grade SMAN 16. Besar
kemungkinan mereka adalah anak dengan hasil belajar rendah, miskin, dan tidak
mampu.
Dalam permasalahan ini. Disatu sisi,
Kepala Sekolah dan Dinas Pendidikan Kota. Usaha mereka dalam membenahi sistem
dan kualitas pendidikan melalui PSB Online
telah berada pada jalan yang semestinya.
Namun aspek lain, menurut
penulis juga harus dipertimbangkan dalam mengambil kebijakan penerimaan siswa
baru.
Aspek-aspek yang dimaksud antara
lain:
Pertama, latar belakang tempat tinggal calon siswa. Bagi siswa miskin dan
tidak mampu, perlu kearifan dan kebijaksanaan khusus, dalam mengawal PSB Online agar anak di sekitar sekolah (dekat
lokasi sekolah) dapat diterima.
Berharap kearifan pada
teknologi atau komputer/PSB Online,
sudah barang tentu tidak akan pernah ada. Sebab, kearifan dan kebijaksanaan milik manusia.
Disinilah bentuk kemulian sifat dan keluhuran budi.
Dalam hal ini tentu kita hanya bisa
berharap! tertumpu harapan kepada Kepala Sekolah dan Dinas
Pendidikan Kota. Apalagi ditengah lesunya perekonomian nasional. Perekonomian masyarakat kita juga semakin
terpuruk.
Bersama kita harus apresiasi,
masih ada keluarga miskin dan tidak mampu, berkeinginan menyekolahkan anak
seperti di SMAN 16 dan sekolah lainnya.
Tentu mereka yang miskin dan
tidak mampu ini, sudah barang pasti mengalami kesulitan dalam pemenuhan
kebutuhan hidup, sekalipun itu hanya kebutuhan dasar (makan dan minum).
Beban akan semakin berat,
apabila anak mereka bersekolah jauh dari tempat tinggal, ditengah mahalnya
biaya transfortasi yang harus ditanggung.
Kedua, bakat dan potensi anak perlu jadi pertimbangan. Sesuai instruksi Pemerintahan Koto, solusi yang
ditawarkan untuk 114 anak di tidak tertampung SMAN 16 akan ditempatkan ke
filial/kelas jauh SMKN 3, yang akan menempati gedung SDN 35 Kuranji (Padek,
23/7).
Solusi ini juga belum bijak. Dilihat dari titik permasalahan penerimaan siswa baru,
tidak mungkin setiap tahunnya Pemerintahan Kota membuka filial/kelas jauh untuk
penyelesaian masalah yang sama dari tahun ketahun.
Disisi lain, Kepala Sekolah dan
Dinas Pendidikan, bahkan Pemerintahan Kota, terkesan tutup mata dan mengabaikan perbedaan bakat
dan potensi anak.
Gardner (1993) menjelaskan
sembilan bentuk kecerdasan (multiple intellegences) manusia. Keberagaman anak, akan lahir minat
dan bakat berbeda dari individu/anak yang berbeda juga. Tentu hal ini perlu juga
menjadi pertimbangkan.
Dalam kasus ini, sangat jelas
ruh (kurikulum), visi dan misi pendidikan SMA dan SMK berbeda 180 derajat.
Tiga jurusan yang di buka; Akuntansi,
Administrasi Perkatoran, dan Teknik Komputer Jaringan (TKJ), di filial/kelas
jauh SMKN 3. Belum tentu sesuai dengan bakat dan minat 114 anak yang tidak
tertampung di SMAN 16.
Dalam hal ini, tentu Kepala
Sekolah dan Dinas Pendidikan perlu meninjau ulang keputusan ini dan rasanya sangat perlu melibatkan tim ahli/pakar,
seperti psikolog pendidikan untuk menggali bakat dan minat serta potensi anak.
Jangan sampai solusi ini hanya
untuk meredam emosi sesaat, sementara mengorbankan masa depan sebahagian anak
yang tidak berbakat dan berminat di SMK. Boleh jadi, sebahagian lagi akan diuntungkan.
Anak yang bersekolah (belajar) tidak
sesuai bakat dan minat. Kecenderungan belajar tidak sungguh, motivasi belajar
rendah dan malas serta tidak akan bergairah dalam belajar dan sebagainya.
Ketiga, kearifan budaya dan latar belakang beridirinya sekolah. Karena
keelokan dan kearifan budaya setempatlah sebagahagian besar dapat berdiri
sekolah-sekolah di Sumatera Barat dan Kota Padang, khususnya SMAN 16.
Masyarakat ingin perubahan, anak-anaknya
bisa bersekolah dan bekerja layak. Bahkan ada janji tidak tertulis, saat
pendirian sekolah, pihak sekolah akan mengutamakan pendidikan anak-anak sekitar
lokasi sekolah, harapan itu, seolah-olah pupus karena maslah
PSB Online
(teknologi).
Kalau begitu, kedepan dalam
pendirian sekolah baru, syah-syah saja masyarakat harus membuat kesepakatan
hitam di atas putih (perjanjian). Agar hak-hak anak-anak mereka
terlindunggi hukum dan tidak lagi tersingkirkan (terabaikan).
Keempat, bersekolah wajib dan dilindunggi Undang-Undang. Sangat tegas dan
jelas hak bersekolah di lindungi.
Amanat Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia 1945 (UUD 1945).
Dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke empat menyatakan Pemerintah Indonesia
bertugas mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kemudian dipertegas dalam BAB
XIII Pasal 31 ayat (1): setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan.
Lebih lanjut Pasal 34 ayat (1)
menjelaskan: fakir miskin dan
anak-anak terlantar dipelihara Negara.
Berdasarkan UU ini, jelas sekali hak seluruh warga Negara untuk mendapatkan
pendidikan. Apalagi fakir miskin dan anak terlantar,
mereka berdomisili sekitar sekolah.
Sudah seharusnya Kepala Sekolah
dan Dinas Pendidikan Kota, setiap tahun ajaran baru, menetapkan keputusan, merakit ulang
teknologi,
meninjau program PSB Online, membuat alokasi khusus calon
siswa baru untuk anak-anak berdomisili di sekitar sekolah, miskin dan tidak
mampu (berprestasi belajar rendah).
Saran sederhana, bisa dalam
bentuk penetapan kebijakan berkisar 1
sampai 2 kelas atau 10 sampai 20
persen setiap tahun dari total
penerimaan siswa baru.
Sebagai contoh, dari total
rencana penerimaan 300 siswa baru di satu sekolah, maka ditetapkan 30 sampai 60
siswa/anak berasal dari warga sekitar, miskin dan tidak mampu tersebut.
Agar hak-hak mereka yang
berdomisili di sekitar sekolah, miskin dan tidak mampu terfasilitasi karena keelokan dan kearifan hati pemangku kebijakan.
Semoga saja dengan saran ini, ketidakarifan bisa berubah menjadi kearifan, tahun depan tidak adalagi permasalahan yang
sama berulang. Selamat tahun ajaran baru!